Rabu, 03 Oktober 2012

Stasiun gambir

"Aku berangkat jam 19.30 naik kereta api sebrani dari gambir, selamat tinggal, senang bisa kenal sama kamu. I always love you". Isi pesan pendek yang kuterima dari xxx.
"Ya ampunn.." Batinku setelah melihat jarum jam dinding diruangan sudah menunjukan pukul 19.00.
Segera kuraih kunci motor,dompet, dan handphone diatas lemari.
"Arrgghhh....apalagi ini!" Makiku ga tau pada siapa, ketika mendengar suara gemericik air digenteng pertanda hujan turun membasahi bumi, yg harusnya tidak turun sekarang jika dilihat dari tadi sore langit cukup cerah.
Kucari mantel hujanku, karena takut jika nanti jika handponeku terkena air hujan, tamat sudah riwayatku, ga bisa menghubungi xxx distasiun. Kucari diseluruh rungan dirumah, dikolong-kolong tapi tidak ada.
"Damn" setelah ingat jika jas hujanku kemarin dipinjam xxx.
Yg ada sekarang hanya kantong plastik sampah hitam yg lumayan cukup untuk sekedar menutupi badan, kulubangi dipinggir bawahnya agar kepalaku bisa masuk. Apa boleh buat, waktuku sudah berkurang 10 menit hanya untuk ini.



Ku stater jupiter mx kesayanganku, langsung tancap gas, lupa pintu gerbang sudah dikunci apa belum, "ahh..bodo amat" pikirku.
"Tiinnn!! Tinn!!! Goblok..bego lw" makian orang-orang dilampu merah pertama, kedua,dan ketiga yang kuterjang saja. Aku ga peduli, lagian ga kenal juga sama mereka batinku.
Sampai lampu merah keempat dibunderan senayan tidak bisa kuterjang karena kendaraan dari arah berlawanan cukup padat, tidak harus dipaksakan juga kali kalau harus diterjang bisa mati konyol juga ditabrak bis-bis dan kendaraan lain.
Tampaknya lampu merah ini masih belum hujan, jalan masih kering. Kugeber-geberkan motorku sudah tidak sabar menunggu lampu merah berubah jadi hijau.tiba-tiba motor disebelah kiriku juga ikut menggeber-geber motornya.
Ku menoleh kearahnya "ehmm...ducati 250 cc mantep" batinku.
disebelah kananku juga ikut menggeber-geber knalpot nya yg cu kup nyaring suara khas motor RX.
Ini berarti mereka menantang balapan, begitulah hukum jalanan yg tidak tersirat.
"Okelah" batinku "siapa takut" kugeber lagi motorku, ambil ancang-ancang.lagian setelah bunderan senayan ini sampai sarinah tidak ada lampu merah lagi. Kulihat jarak sekitar 300 meter kedepan jalan sepi hanya ada beberapa taksi dipinggiran dan kendaraan lain dibelakang kami yang berjejer paling depan dilampu merah.
"Sampai sarinah yuk" ajaku ke ducati dikiriku. Dia mengangguk.
"Sampai sarinah bang" teriaku juga kepada RX di kananku. Dia mengangkat jempol tanda setuju.
Lampu merah sudah berubah jadi kuning dan "ya!" Seketika lampu menjadi hijau tanpa diaba-aba kami langsung menyentakan gas bersamaan. Si RX mengankat ban depanya dan itu malah membuatnya ketinggalan, si Ducati sudah melaju sekitar 5 meter didepanku, RX hampir sejajar denganku.
"Ciiiiittttt" suara rem si ducati ketika tibak tiba ada bajaj masuk dijalurnya. Dia mengerem mendadak sampai roda belakangnya terangkat.
"Hahhaa...ini jalanan jakarta bung, bukan arena balap, susah kalau naik motor begituan disini" batinku.
Langsung kusalip si ducati, si RX terus menempel ketat, ku tarik gas penuh yang dari tadi hanya baru 3/4 setelah kulihat jalanan didepan kosong. Si RX mulai tertinggal. "Emang sehebat iklannya sikomeng nih motor" batinku menghibur.
Beggitu masuk diterowongan semanggi kutengok kebelakang si RX sudah tidak terlihat, mungkin dia belok arah atau berhenti karena jika dilihat dari motor dia tidak mungkin tertinggal begitu jauh, atau si joki masih kurang nyali nya selap selip di antara mobil.
Ahh...sudahlah lupain soal kebut-kebutan tadi, lagian tujuan utamaku ke stasiun gambir sebelum jam 19.30.
"Jam berapa sekarang ya pak" tanyaku kepada pengendara motor disebelahku ketika berhenti dilampu merah bundaran monas.
"Jam setengah sembilan kurang lima" jawabnya.
"Terima kasih Pak" sahutku, sambil ancang-ancang lagi siap ngebutt karena waktu tersisa tinggal 5 menit.
"Wesss" begitu lampu hijau menyala.
Sampai didepan stasiun motor hanya kutaruh dipinggir jalan saja tanpa masuk ke area parkir. Ku langsung berlari menuju pintu masuk stasiun.
"Mas..mas motornya jangan diparkir disini mas" teriak seorang petugas padaku.
"Nitip bentar pak lagi buru-buru" teriaku sambil terus berlari tanpa menoleh kearah petugas tadi.
Masih dengan helm dikepala dan kantong plastik sampah dibadan aku masuk saja kedalam stasiun.
"Misi...misi" hanya itu yg keluar dari mulutku sembari menerobos kerumunan orang. Sambil sesekali bilang "sory...sory lagi buru-buru" jika tidak sengaja bertabrakan dengan orang.
"Kereta sembrani sudah jalan belum pak?"
Tanyaku pada petugas pemeriksa tiket dipintu masuk menuju kereta.
"Punya tiket ndak?" Sipetugas tiket bertanya balik dengan logat jawa nya yg kental.
"Ga punya pak" jawabku.
"Ndak boleh masuk mas kalo ndak punya tiket" jawabnya lagi.
"Ayolah mas tedjo, saya mesti ketemu sama orangnya penting banget soalny" aku memelas. Ke pak tedjo yang namanya tertulis diseragam kerjanya.
"Udah masuk aja, minta uang rokok nya aja" sergah petugas satunya lagi yg juga memperhatikan kami sedari tadi.
Segera kurogoh saku dan memberikan selembar uang kertas warna biru kepada pak tedjo.
"Ya udah sana masuk, udah mau jalan keretanya" jawabnya ramah.
Kuberlari lagi menuju area pemberangkatan. Kurogoh handphone disaku, sambil terus berlari menuju kereta.
"Tut...tut..hall.. "suara diseberang.
"Kamu masih digambir xxx?" Potongku.
"Masih, tapi kereta sudah mau jalan, kamu dimana?" Jawabnya.
"Kamu digerbong mana?" Tanyaku lagi tanpa menjawab pertanyaanya.
"Aku dikelas executive gerbong nom.." Suara diseberang terpotong.
"Anjingg..."teriaku, kenapa tadi handphone tidak dicharge, jadi handphone mati disaat-saat begini.
"Kereta ke xxx yang mana ya pak" tanyaku kepada petugas dijalur rel sambil tergopoh-gopoh.
"Kereta sembrani ya?" Dia menegaskan.
"Iya pak, yang mana pak?" Jawabku tidak sabar sambil mengatur nafas.
"Yang itu" pak petugas menunjuk ke arah kereta putih yg sebagian pintu-pintu gerbongnya sudah tertutup pertanda sudah siap akan berangkat.
"Terima kasih Pak" aku langsung berlari menuju ke kereta itu.
"Punya tiket tidak" teriak sipetugas.
Aku hanya melambaikan tangan.
Baru sekitar tujuh langkah aku berlari, aku berbalik lagi kearah pak petugas.
"Yang gerbong executive yg mana pak" aku ngos-ngosan lagi.
"Gerbong satu,dua dan tiga dari depan itu gerbong executive" jawabnya.
"Makassih lagi pak" aku langsung berlari kedepan gerbong executive.
sampai digerbong ketiga, aku cek dari jendela tiap bangkunya. Ahh...tidak ada disini.
Orang-orang terlihat seperti sedang memperhatikanku semua. Pria dengan helm dan kantong plastik sampah berlarian distasiun mengecek penumpang dari jendela "ahh...Bodo amat" batinku. lagian mereka juga senang lihat tontonan, lumayan ada yang bisa diceriitakan nanti waktu mereka sampai dirumah.
Berlanjut digerbong kedua, aku cek dari bangku paling belakang, ke bangku depanya, kedepanya lagi, dan ini yang aku cari dari tadi gadis manis dengan rambut kuncir kuda.
Kuketok jendela disampingnya. Dia menoleh.
"xxx jangan pergi aku butuh kamu disini" teriaku kencang, takut dia tidak mendengar

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar